Harga Pangan Terkendali 2025 Menjadi Faktor Perbaikan Ekonomi Salah satu indikator penting yang mendukung pemulihan ekonomi tersebut adalah stabilitas harga pangan yang tetap terkendali meskipun terjadi peningkatan permintaan selama periode libur panjang.
Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa terkendalinya harga pangan merupakan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Menurutnya, faktor lain yang turut mendorong perbaikan ekonomi pasca Lebaran adalah kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) sebesar 6,5 persen di awal tahun 2025 serta kenaikan gaji guru. Fakhrul mengungkapkan bahwa kombinasi dari faktor-faktor ini dapat memberikan dorongan pada daya beli masyarakat.
“Ini adalah tanda-tanda yang baik bagi Indonesia. Dengan adanya kenaikan UMR sebesar 6,5 persen pada awal tahun dan kenaikan gaji guru, ditambah dengan terkendalinya harga pangan, kita bisa melihat prospek ekonomi yang lebih stabil dan positif,” ujar Fakhrul dalam pernyataannya kepada Antara.
Harga Pangan Terkendali 2025 Harga Stabil
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan pada H+1 Lebaran 2025, pergerakan harga bahan pokok di sejumlah daerah dilaporkan tetap stabil. Salah satu contoh dapat dilihat dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Menurut data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Kabupaten Bojonegoro pada 2 April 2025, harga beras premium tercatat stabil di angka Rp15.000 per kilogram.
Selain itu, harga gula kristal putih berada pada kisaran Rp17.250 per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan premium 1 liter tetap stabil di harga Rp21.000.
Komoditas cabai juga dilaporkan stabil, dengan cabai merah keriting seharga Rp50.000 per kilogram, cabai merah besar Rp45.000 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp95.000 per kilogram. Stabilnya harga ini menjadi pertanda bahwa pasokan bahan pokok tetap terjaga, sehingga lonjakan harga yang dikhawatirkan tidak terjadi.
Mengatasi Fenomena Eggflation
Selain stabilnya harga bahan pokok, Indonesia juga berhasil mengatasi fenomena eggflation yang melanda sejumlah negara. Eggflation merupakan kondisi di mana harga telur mengalami kenaikan tajam akibat terbatasnya pasokan, yang umumnya dipicu oleh wabah penyakit pada unggas atau masalah distribusi. Namun, di Indonesia, produksi telur ayam ras tetap melimpah dan harga terkendali.
Per Maret 2025, harga telur ayam ras nasional berada pada kisaran Rp29.475 per kilogram. Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa harga ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengalami kenaikan harga signifikan, seperti Swiss, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Faktor ketersediaan pasokan yang cukup menjadi alasan utama di balik stabilnya harga telur di Indonesia.
Harga Pangan Nasional Berdasarkan Data PIHPS
Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa sejumlah komoditas pangan secara umum berada pada level stabil. Berdasarkan data terbaru, harga telur ayam ras tercatat Rp29.450 per kilogram. Komoditas lain seperti bawang merah dihargai Rp50.150 per kilogram dan bawang putih Rp46.150 per kilogram.
Beras kualitas bawah I dihargai Rp13.450 per kilogram, sedangkan kualitas bawah II berada pada Rp13.950 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas medium I dihargai Rp14.350 per kilogram, dan kualitas medium II Rp13.800 per kilogram. Untuk beras kualitas super I, harga mencapai Rp16.250 per kilogram, sementara kualitas super II dijual pada Rp15.450 per kilogram.
Stabilitas harga juga terlihat pada komoditas cabai, dengan cabai merah besar mencapai Rp51.750 per kilogram, cabai merah keriting Rp53.200 per kilogram, dan cabai rawit hijau Rp43.600 per kilogram. Adapun harga daging ayam ras berada pada Rp38.350 per kilogram, daging sapi kualitas I Rp135.950 per kilogram, dan daging sapi kualitas II Rp124.150 per kilogram.
Komoditas lainnya seperti gula pasir kualitas premium tercatat Rp19.550 per kilogram, sementara gula pasir lokal berada di Rp18.550 per kilogram. Harga minyak goreng curah berada pada Rp19.700 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek I dihargai Rp22.350 per liter dan kemasan bermerek II Rp20.300 per liter.
Dampak Positif Bagi Ekonomi
Kondisi stabilnya harga pangan setelah Lebaran dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian nasional. Dengan daya beli masyarakat yang tetap terjaga, aktivitas ekonomi dapat terus berlangsung tanpa terganggu oleh lonjakan harga bahan pokok. Hal ini juga memberikan kepercayaan lebih pada investor terkait stabilitas pasar dalam negeri.
Fakhrul Fulvian menekankan bahwa pentingnya menjaga stabilitas harga pangan tidak hanya bermanfaat pada sisi ekonomi, tetapi juga pada aspek sosial. Ketika harga terkendali, masyarakat merasa lebih tenang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama pasca Lebaran yang biasanya identik dengan peningkatan konsumsi.
Kesimpulan
Keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas harga pangan pasca Lebaran merupakan hasil dari kerja sama yang baik antara pemerintah, produsen, dan distribusi pangan. Dengan tetap terjaganya pasokan dan harga yang stabil, perekonomian nasional dapat terus menunjukkan tren pemulihan.
Langkah-langkah antisipatif seperti menjaga produksi dan distribusi yang memadai, serta pemantauan ketat terhadap harga di pasar, perlu terus dilakukan agar kestabilan ekonomi tetap terjaga. Ke depan, diharapkan kondisi ini dapat dipertahankan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga : Menko AHY Optimistis Ekonomi Tumbuh Meski Tantangan Global