Pulang Kerja Main Layangan di BKT, Ridwan Cuma Bawa Benang di TasPulang Kerja Main Layangan di BKT, Ridwan Cuma Bawa Benang di Tas

Pulang Kerja Main Layangan di BKT, Ridwan Cuma Bawa Benang di Tas

Setiap sore di sepanjang Kanal Banjir Timur (BKT)  suasana berubah menjadi arena rekreasi warga.

Salah satu pemandangan yang cukup mencuri perhatian adalah seorang pria bernama Ridwan, yang sepulang kerja rutin datang ke

BKT hanya untuk bermain layangan. Yang unik, ia hanya membawa satu benda di dalam tas kerjanya—gulungan benang layangan.

Pulang Kerja Main Layangan di BKT, Ridwan Cuma Bawa Benang di Tas

Bagi Ridwan, bermain layangan bukan sekadar hobi, tapi juga cara sederhana untuk melepas penat setelah seharian bekerja.

Pekerja kantoran ini mengaku bahwa setiap sore, ia menyempatkan diri mampir ke BKT, menggulung lengan kemejanya, lalu bermain layangan bersama warga lain.

“Kalau orang lain mungkin ngopi atau main game. Saya lebih suka narik layangan, rasanya plong aja,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia tidak membawa layangan secara fisik, karena layangannya selalu dititipkan ke salah satu penjual layangan di pinggir jalan BKT.

Satu-satunya benda yang ia bawa sendiri adalah benang—yang menurutnya lebih praktis dan bisa disesuaikan sesuai kebutuhan.

Tradisi Layangan yang Tak Pernah Usang

Bermain layangan sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia sejak lama.

Di wilayah seperti BKT, tradisi ini tetap hidup meski kota terus berkembang. Di sore hari, langit di atas kanal selalu penuh warna-warni layangan, mulai dari bentuk sederhana hingga yang dibuat dengan teknik rumit.

Ridwan sendiri sudah bermain layangan sejak kecil, dan kebiasaan itu terus terbawa hingga dewasa. “Biar usia makin tua, tetap aja rasa senangnya sama.

Apalagi pas benangnya putus atau tarik-tarikan sama pemain lain, itu adrenalinnya luar biasa,” katanya.

Modal Murah, Kebahagiaan Maksimal

Salah satu alasan mengapa bermain layangan tetap populer adalah karena biaya yang sangat terjangkau. Untuk satu layangan sederhana, cukup merogoh kocek Rp10.000 – Rp20.000.

Bahkan Ridwan mengaku bahwa ia jarang membeli baru karena sering memperbaiki layangan lamanya.

Yang terpenting bagi Ridwan adalah benang. Ia bahkan membawa benang andalannya ke kantor, tersimpan rapi di dalam tas kerja. “Kalau ditanya isinya tas saya, cuma laptop, charger, dan benang layangan,” ucapnya sembari tertawa.

Interaksi Sosial yang Terbangun dari Layangan

Selain untuk hiburan, bermain layangan di BKT juga menjadi ajang interaksi sosial. Banyak warga yang saling mengenal hanya karena sering bertemu di lapangan layangan. Ridwan pun mengaku sudah punya banyak teman baru dari aktivitas ini.

“Biasanya kalau habis narik layangan, kita ngobrol. Ada yang kerja jadi sopir, tukang parkir, bahkan ada anak kuliahan. Kita semua nyambung karena satu hal: suka layangan,” katanya.

Bahkan, sesekali mereka mengadakan lomba tarik layangan kecil-kecilan tanpa hadiah, hanya untuk keseruan dan sportivitas. Atmosfer kebersamaan itulah yang membuat Ridwan betah datang setiap sore.

BKT, Ruang Publik yang Menjadi Tempat Bersantai

Kawasan Kanal Banjir Timur memang telah lama menjadi ruang publik favorit warga Jakarta Timur dan sekitarnya. Selain digunakan untuk olahraga seperti jogging dan bersepeda, area ini juga menjadi tempat untuk aktivitas tradisional seperti bermain layangan.

Dengan pemandangan kanal dan angin yang cukup kencang, tempat ini sangat cocok untuk menerbangkan layangan. Pemerintah setempat juga memberikan dukungan dengan menjaga kebersihan dan ketertiban area tersebut.

Menikmati Hidup Lewat Hal Sederhana

Kisah Ridwan menunjukkan bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari hal yang besar atau mahal. Bagi sebagian orang, seperti Ridwan, kenikmatan hidup bisa ditemukan dalam aktivitas sederhana—seperti menarik layangan ke langit sambil menghapus penat selepas bekerja.

“Main layangan itu bukan cuma soal menang atau tinggi-tinggian. Tapi tentang bagaimana kita menikmati angin, langit sore, dan suasana yang damai,” pungkasnya sebelum kembali menatap layangannya yang terbang tinggi.

Baca juga: Cerita Keluarga di Bekasi Hidup Terimpit di Rumah yang “Ditelan Bumi” dan Diselimuti Ancaman

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

angelspublicschools.in