Trenggono Lima Kebijakan Ekonomi & Jaga Ekosistem Perikanan terus memperkuat komitmen dalam menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui implementasi kebijakan ekonomi biru.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan bahwa kementeriannya telah merumuskan lima kebijakan strategis dalam kerangka ekonomi biru guna menjaga ekosistem laut, meningkatkan ketahanan pangan nasional, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat serta negara secara keseluruhan.
Dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (23/3), Menteri Trenggono menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis sebagai fondasi utama untuk menjamin keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan. Ia menekankan bahwa kerusakan lingkungan laut akan berdampak langsung tidak hanya pada kehidupan biota laut, namun juga pada keberlangsungan hidup manusia secara umum.
“Menjaga ekologi laut adalah hal yang sangat krusial. Apabila keseimbangan ekosistem laut terganggu, maka dampaknya bisa sangat luas, termasuk terhadap keberlanjutan kehidupan manusia itu sendiri,” ujar Menteri Trenggono.
Trenggono Lima kebijakan Ekonomi Indonesia
Adapun lima kebijakan strategis yang masuk dalam program ekonomi biru KKP antara lain: pertama, perluasan kawasan konservasi laut sebagai bentuk perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut.
Kedua, penerapan kebijakan penangkapan ikan secara terukur berbasis kuota yang bertujuan untuk mencegah eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya ikan. Ketiga, pengembangan sektor budi daya perikanan baik di wilayah pesisir daratan maupun laut sebagai alternatif produksi berkelanjutan.
Keempat, penguatan sistem pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang pesisir serta pulau-pulau kecil agar tidak terjadi degradasi lingkungan. Dan kelima, pengentasan sampah plastik di laut melalui gerakan kolektif yang melibatkan partisipasi aktif para nelayan lokal dalam menjaga kebersihan perairan.
Menurut Menteri Trenggono, implementasi lima pilar kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi sektor kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Ia meyakini bahwa dengan pendekatan berbasis ekologi, sektor ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.
Data KKP menunjukkan bahwa sektor kelautan dan perikanan Indonesia setiap tahunnya mampu menghasilkan lebih dari 20 juta ton produk perikanan. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 7 juta ton hasil tangkapan, 5 hingga 6 juta ton dari kegiatan budi daya ikan, serta sekitar 9 juta ton rumput laut. Melalui kebijakan ekonomi biru, KKP terus berupaya meningkatkan tidak hanya volume produksi, namun juga kualitas dan nilai tambah dari produk perikanan nasional.
“Dengan pendekatan ekonomi biru, kami berupaya agar produksi sektor ini tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitatif. Artinya, mutu dan standar produk perikanan Indonesia harus mampu bersaing di pasar global,” jelasnya.
Jaga Ekosistem Perikanan
Menteri Trenggono juga menyatakan optimisme bahwa pengelolaan sumber daya kelautan yang ramah lingkungan dapat menjadi salah satu faktor utama dalam pencapaian target swasembada pangan nasional yang telah dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Sebagai bentuk pengakuan atas komitmen dan kinerjanya dalam memajukan sektor kelautan secara berkelanjutan, Menteri Sakti Wahyu Trenggono baru-baru ini menerima penghargaan Maritime Leadership Excellence in Food Security Award dalam acara Food Summit 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu, 19 Maret 2025.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas inisiatif dan kepemimpinannya dalam menciptakan masa depan pangan laut Indonesia yang mandiri dan lestari.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik, Doni Ismanto Darwin, menambahkan bahwa di samping peningkatan produksi dan kualitas hasil perikanan, KKP juga tengah mengembangkan sistem pengawasan berbasis teknologi tinggi guna menjaga kelestarian sumber daya laut.
Doni menjelaskan bahwa KKP telah mengembangkan teknologi ocean big data serta menyusun neraca sumber daya laut untuk memetakan potensi serta mengidentifikasi ancaman yang dapat merugikan ekosistem perairan. Teknologi ini, lanjut Doni, juga digunakan untuk memonitor kawasan karbon biru, mendeteksi aktivitas perikanan ilegal, serta memastikan bahwa pemanfaatan ruang laut dilakukan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik.
Baca Juga : Investor Dari Negara OKI Diharapkan Bentuk Bursa Saham Rusia